Bertanam Buah Naga Dalam Pot

0 komentar
Tanaman buah naga bisa digunakan sebagai tanaman hias untuk memperindah halaman rumah sekaligus bisa dinikmati buahnya.. Tentunya sangat menyenangkan bila kita bisa memetik sendiri dan menikmati buah naga, buahnya dapat dipetik setiap minggu apabila sudah memiliki lebih dari 10 cabang produksi.

Kelebihan penanaman buah naga di pot adalah kita biasa memindahkan dan mengatur letak tanaman sesuai keinginan. Tetapi untuk menghasilkan tanaman buah naga yang produktif tetap harus diketahui cara perawatan dan pemupukan yang benar.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam pembudidayaan buah naga di pot :

1. Menyiapkan Pot
Anda bisa menggunakan berbagai jenis pot dari bahan semen, plastic, tanah liat atau drum bekas yang dipotong. Tetapi menurut pengalaman, pot dari bahan tanah liat adalah yang paling ideal karena tanaman buah naga membutuhkan perubahan suhu yang drastic dari siang ke malam dalam proses pembungaan. Ukuran pot yang digunakan semakin besar semakin baik, minimal berdiameter sekitar 40cm.

2. Menyiapkan Tiang Panjatan
Tanaman buah naga membutuhkan tiang panjatan untuk menopang supaya tidak roboh. Nantinya tiang ini akan dililit akar udara dan akan menopang beberapa cabang produksi yang berat yang tentu saja perlu dipilih dari bahan yang kuat tetapi juga perlu diperhatikan jangan sampai pot tidak bisa menahan beban berat tiang panjatan.

Sebaiknya tiang panjatan dibuat dari besi beton berdiameter 8-10 cm, atau balok kayu yang kuat dan tahan lama karena usia buah naga yang bisa mencapai puluhan tahun. Tinggi tiang antara 150-200 cm disesuaikan dengan besar pot. Pada bagian bawah tiang diberi kaki-kaki penguat agar nantinya bisa kuat dan tidak mudah goyah. Untuk tiang dari besi beton, bagian yang terpendam dalam tanah bisa diberi aspal untuk menghindari karat. Untuk bagian atas tiang diberi piringan yang berbentuk seperti stir mobil yang berfungsi untuk menyangga cabang-cabang produksi yang banyak.

3. Media Tanam
Setelah pot dan tiang panjatan sudah selesai disiapkan, selanjutnya adalah menyiapkan media tanam. Bahan-bahannya adalah pasir, tanah, pupuk kandang dan kompos dengan perbandingan 2:1:3:1. Anda juga bisa menambahkan bubuk batu bata merah secukupnya dan dolomit (kapur pertanian) sebanyak 100 g dicampur rata dengan bahan-bahan tersebut. Kemudian media tanam disiram dengan air hingga kondisi jenuh dan dibiarkan selama sehari semalam.

4. Penanaman bibit
Bibit sebaiknya dipilih yang besar, dari batang tua yang berwarna hijau tua keabuan dan bebas dari penyakit. Idealnya panjang bibit yang ditanam minimal 30 cm. Selanjutnya bibit ditanam disekitar tiang panjatan dengan kedalaman 10 cm, jangan terlalu dalam karena akan mengakibatkan pertumbuhan yang kurang bagus. Setelah ditanam media tanam ditekan-tekan agar bibit tidak mudah roboh. Selanjutnya media tanam disiram dengan air dan diletakkan ditempat terbuka tidak ternaungi yang terkena sinar matahari langsung.

5. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman buah naga yang ditanam di pot tidak jauh beda dengan buah naga yang ditanam dikebun yaitu meliputi pemupukan, penyiraman dan pemangkasan cabang yang tidak diperlukan ( untuk lebih lengkapnya bisa dibaca di http://www.buahnaga.us ) .Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah tanaman dipastikan menempel dengan baik pada tiang panjatan dan tidak roboh, oleh karena itu perlu dilakukan pengikatan batang buah naga pada tiang dengan menggunakan tali atau kawat dengan bentuk ikatan seperti angka ‘8’ tidak boleh terlalu kencang karena bisa merusak batang atau cabang seiring pertumbuhannya yang semakin membesar.



Cabang hasil pemangkasan bisa ditanam kembali untuk menambah jumlah bibit yang bisa di tanam di pot yang lain. Semoga bermanfaat.

sumber: buahnaga.us
Read more...

Macam-macam Olahan Buah Naga

0 komentar
Buah Naga… hm… kalau dimakan begitu saja mungkin banyak yang kurang suka ya, karena rasa manisnya itu agak beda dengan manis yang biasa mampir dilidah. Hambar dengan aroma wangi yang tak biasa pula. Tapi, jangan salah image dulu, karena buah naga jika diolah dengan bumbu atau komponen
 
lain, akan menghasilkan citarasa khas yang tak hanya menjadikan masakan lebih wangi, namun juga berasa lebih nikmat.



salad buah naga

pudding buah naga
naga baby

Mini Naga Pie
Mini Pie berlapis selai buah naga berserat tinggi.
Cocok untuk kudapan pendamping teh hangat di pagi dan sore hari.

Bagaimana anda ingin mencoba masakan tersebut?
Read more...

Manfaat Buah Naga

0 komentar
Add caption
Buah naga mempunyai khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia diantaranya sebagai penyeimbang kadar gula darah, pelindung kesehatan mulut, pencegah kanker usus, mengurangi kolesterol, pencegah pendarahan dan mengobati keluhan keputihan.

Buah naga biasanya dikonsumsi dalam bentuk buah segar sebagai penghilang dahaga, karena buah naga mengandung kadar air tinggi sekitar 90 % dari berat buah. Rasanya cukup manis karena mengandung kadar gula mencapai 13-18 briks. Buah naga juga dapat disajikan dalam bentuk jus, sari buah, manisan maupu selai atau beragam bentuk penyajian sesuai selera anda.

Secara umum,pakar sependapat dan mengakui buah naga kaya dengan potasium, ferum, protein, serat, sodium dan kalsium yang baik untuk kesihatan berbanding buah-buahan lain yang diimport.

Menurut AL Leong dari Johncola Pitaya Food R&D, organisasi yang meneliti buah naga merah , buah kaktus madu itu cukup kaya dengan berbagai zat vitamin dan mineral yang sangat membantu meningkatkan daya tahan dan bermanfaat bagi metabolisme dalam tubuh manusia.

“Penelitian menunjukkan buah naga merah ini sangat baik untuk sistem peredaran darah, juga memberikan efek mengurangi tekanan emosi dan menetralkan toksik dalam darah.“Penelitian juga menunjukkan buah ini bisa mencegah kanker usus, selain mencegah kandungan kolesterol yang tinggi dalam darah dan menurunkan kadar lemak dalam tubuh,” katanya.

Secara keseluruhan, setiap buah naga merah mengandungi protein yang mampu meningkatkan metabolisme tubuh dan menjaga kesehatan jantung; serat (mencegah kanker usus, kencing manis dan diet); karotin (kesehatan mata, menguatkan otak dan mencegah masuknya penyakit), kalsium (menguatkan tulang).

Buah naga juga mengandungi zat besi untuk menambah darah; vitamin B1 (mencegah demam badan); vitamin B2 (menambah selera); vitamin B3 (menurunkan kadar kolesterol) dan vitamin C (menambah kelicinan, kehalusan kulit serta mencegah jerawat).

Berikut ini kandungan nutrisi lengkap buah naga :

Kadar Gula : 13-18 briks
Air : 90 %
Karbohidrat : 11,5 g
Asam : 0,139 g
Protein : 0,53 g
Serat : 0,71 g
Kalsium : 134,5 mg
Fosfor : 8,7 mg
Magnesium : 60,4 mg
Vitamin C : 9,4 mg

Itulah beberapa manfaat dari buah naga. Bagaimana anda tertarik untuk mengkonsumsi buah naga?
sumber: buahnaga.us
Read more...

Macam-Macam Buah Naga

0 komentar
Buah Naga atau Dragon Fruit itu, salah satu jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah Naga asalnya dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, tapi sekarang juga udah dibudidayakan di negara-negara Asia, contohnya; Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia dan termasuk di Indonesia.

Waktu tahun 1870 Buah Naga dibawa orang Perancis dari Guyana ke Vietnam buat jadi tanaman hias. Nah, waktu itu orang Vietnam dan orang Cina nganggep kalo Buah Naga itu bawa berkah. Makanya, buah ini selalu diletakkan di antara dua ekor patung naga yang warnanya hijau di atas meja altar. Warna merah Buah Naga jadi mencolok banget kalo diletakan di antara warna naga-naga yang hijau.

Dari kebiasaan ini, Buah Naga di kalangan orang Vietnam yang terpengaruh banget budaya Cina dikenal sebagai thang loy (buah naga). Thang loy orang Vietnam ini kemudian diartikan di Eropa dan negara-negara lainnya yang pake' bahasa Inggris jadi Dragon Fruit (buah naga).

Inilah macam-macam Buah Naga :


Hylocereus undatus, yang buahnya warna merah dan daging buahnya warna putih

Hylocereus polyrhizus, yang buahnya warna merah muda dan daging buahnya warna merah

Selenicereus megalanthus, yang kulit buahnya warna kuning dan daging buahnya putih
Hylocereus costaricensis, yang daging buahnya super merah
Itulah macam-macam buah naga yang ada di indonesia saat ini. Semoga bermanfaat.

Read more...

Mengenal Buah Naga

0 komentar
BUAH NAGA, meski tanaman ini kini telah mudah ditemui, namuk tak banyak orang yang mengerti secara mendalam khasiat tersembunyi di balik buah naga. Bentuknya yang berbeda dari buah-buah lainnya, kian menonjolkan keistimewaan dari buah penuh manfaat ini. Dalam perkembangannya, kehadiran buah naga juga kerap menorehkan berbagai peran lain.

Masyarakat China Kuno menganggap buah naga lebih dari sekadar buah dengan beragam manfaat. Buah dengan kulit yang menyerupai sisik ular besar ini sering menjadi pendamping dua patung di meja altar persembahan. Setiap perayaan tahun Baru Imlek buah ini juga disajikan, dan menjadi salah satu sajian yang wajib ada karena diyakini membawa berkah.

Padahal di tempat asalnya, Meksiko, buah naga justru dianggap sebelah mata. Baru setelah dibawa ke Vietnam, tanaman buah naga mulai dibudidayakan secara luas sebelum akhirnya berkembang ke negara Asia Tenggara.

Di Vietnam buah naga kerap disebut Thanh long atau clever dragon sedangkan masyarakat China menyebutnya Feuy Long Kwa. Di daerah Meksiko, buah naga hadir dengan sebutan Pitahaya.

Buah naga sendiri memiliki warna kulit yang menyala, kulitnya juga tidak mulus, melainkan berlapis sehingga mirip sisik ular besar atau naga. Isi buahnya berwarna putih, merah atau ungu dengan taburan biji-biji berwarna hitam. Tekstur isinya seperti selasih dengan cita rasa seperti buah kiwi.

Badan Litbang Pertanian Republik Indonesia menyebutkan, bahwa buah naga dapat menurunkan kadar kolesterol, penyeimbang gula darah, menguatkan fungsi ginjal dan tulang, serta meningkatkan kerja otak. Adapun zat fitokimia di dalam buah ini dapat menurunkan risiko kanker.

Buah naga juga sangat baik untuk sistem peredaran darah. Buah ini sangat efektif untuk mengurangi tekanan emosi dan menetralkan racun dalam darah. Buah naga mengandung 80 persen air, vitamin C, serat, kalsium, zat besi, dan fosforus yang bermanfaat untuk mengatasi penyakit darah tinggi.

Kandungan serta pada buah naga yang mencapai 0,7-0,9 gram dalam setiap gramnya juga sangat berguna dalam sistem pencernaan dan menurunkan kadar kolesterol. Jika ingin terhindar dari berbagai penyakit, tak ada salahnya bila anda mengonsumsi buah naga mulai dari sekarang.


sumber gambar: ayvatlar.com
Read more...

Budidaya Kakao Harapan Baru Petani Tulungagung

0 komentar
Kakao Indonesia mempunyai peluang pasar yang bagus saat ini, khususnya ke daratan Cina. Hal ini disebabkan situasi keamanan negara-negara Afrika penghasil kakao saat ini kurang kondusif, oleh karena itu kita bisa memanfaatkan peluang yang baik tersebut dengan cara melakukan budidaya kakao baik perlakuan pra panen maupun pasca panen, sehingga bisa menembus pasar internasional.


Tulungagung merupakan salah satu [I]Cocoa Belt[/I] di Jawa Timur, yaitu pengembangan tanaman kakao yang dilaksanakan di bagian selatan Jawa Timur mulai dari Kabupaten Pacitan ke arah timur sampai dengan Kabupaten Banyuwangi.

Pengembangan kakao di Tulungagung mempunyai sasaran sebagai berikut:

[*]Target luas areal 580 ha didukung ketersediaan bibit sebanyak 530.000 batang.[/*]
[*]Pengembangan kakao akan dilaksanakan di Kecamatan Rejotangan, Kalidawir, Besuki, Sumbergempol, Ngunut, Tanggunggunung, dan Ngantru.[/*]

Daya tarik kakao terletak pada harga komoditinya yang saat ini sangat menggairahkan bagi petani yaitu mencapai Rp.22.000/kg ose kering. Selain itu, dengan enggunaan bibit SE (benih Somatic Embriyogenetic), hasil panen dapat segera dirasakan manfaatnya oleh petani karana cepat berproduksi serta memiliki kualitas dan kuantitas yang cukup baik.


sumber: tulungagung.go.id
Read more...

Trembesi Sebagai Perwujudan Investasi Masa Depan

0 komentar
Dalam rangka mengupayakan kelestarian sumber daya lahan dan air sekaligus untuk mengurangi pencemaran lingkungan di wilayah perkotaan khususnya guna mengurangi banyaknya gas karbon dioksida (CO2) dan sesuai dengan Instruksi Bapak Presiden Republik Indonesia telah memberikan benih Trembesi sebanyak 215 kg.

Dari benih sebanyak itu telah dilakukan pembibitan sehingga saat ini telah tersedia bibit Trembesi yang siap tanam sebanyak 50.000 batang bibit

Adapun ciri-ciri pohon trembesi adalah:

[#]Sistem perakaran yang kokoh dan tidak mudah tumbang.[/#]
[#]Sangat teduh dengan bentangan 30 m.[/#]
[#]Sejuk, menurunkan suhu 3 - 4 ?C.[/#]
[#]Satu pohon menyerap 28,5 ton CO2/tahun.[/#]
[#]Dapat hidup 100 tahun.[/#]

Marilah kita melakukan penanaman Trembesi sebagai perwujudan investasi masa depan dan kelestarian lingkungan, untuk mewujudkan Kabupaten Tulungagung yang nyaman dan lestari serta kualitas hidup yang lebih baik untuk kita dan anak cucu kita nanti.

Apabila masyarakat berminat mendapatkan bibit trembesi dapat menghubungi Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tulungagung Jl. Sultan Agung Gang III No. 9 - 11 dengan nomor telepon (0355)322190 Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.


sumber: tulungagung.go.id
Read more...

Ulat Bulu Yang Menyerang Tulungagung Berjenis Sama

0 komentar
Beberapa ulat bulu yang menyerang tanaman warga Desa Bendorejo Kecamatan Ngantru, Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung serta Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat Tulungagung, telah berhasil diidentifikasi oleh Petugas dari Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur.

Pernyataan ini disampaikan oleh Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupetan Tulungagung, Sugeng, SP. "Kami baru saja mendapat informasi dari lab, bahwa penelitian terhadap contoh ulat yang menyerang di beberapa desa di tiga kecamatan di Kabupaten Tulungagung, teridentifikasi dari famili [I]Lymantridaee [/I]yang berasal dari kupu-kupu malam atau [I]Nocturno[/I]," ujar Sugeng kepada beberapa wartawan yang menanyainya. Sementara pola makan dari ulat bulu yang menyerang di Tulungagung adalah [I]Polypag [/I]atau makan beberapa jenis daun tanaman yang ada.

Namun demikian Sugeng berharap warga tidak usah resah dengan keberadaan ulat bulu tersebut, karena Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung telah menyiapkan pestisida untuk mengendalikan hama tersebut. Namun demikian pengendalian paling efektif, menurut Koordinator POPT ini adalah dengan cara mekanis, yakni dengan membakar ulat yang menempel di pohon.

Sampai dengan Jumat siang ini, serangan ulat bulu tersebut belum berdampak secara ekonomi, karena ulat bulu yang ditemukan masih menempel di batang pohon, belum sampai menghabiskan daun yang ada, seperti yang terjadi di daerah Probolinggo. Namun demikian dia berharap, masyarakat tetap waspada dan segera memberikan informasi ke Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung. "Kalau tidak masyarakat juga bisa menghubungi petugas kami yang ada di tiap tiap kecamatan," jelasnya. (Okky Diperta)

sumber: tulungagung.go.id
Read more...
0 komentar
"If paradise still exists on earth, then Cibodas must have been part of it! Andai saja surga masih ada di muka bumi, Cibodas pastilah bagian dari surga itu."

Demikian diucapkan Kepala Unit Pelaksana Teknis Kebun Raya Cibodas Didik Widyatmoko dalam sambutan memperingati Hari Ulang Tahun Ke-159 Kebun Raya Cibodas.


Kalimat puitis itu dicuplik Didik dari ungkapan ilmuwan Belanda, Frits Warmolt Went (1903-1990). Ia pernah singgah dan meriset tumbuhan di Kebun Raya Cibodas.

Went kemudian dikenal dunia sebagai penemu auksin, hormon yang sangat penting dalam mengatur pertumbuhan tanaman.

Auksin terdapat pada sel ujung batang, akar, dan pembentukan bunga. Auksin mengatur pembesaran sel. Bagian-bagian tumbuhan yang mengandung auksin ini tumbuh bertambah panjang dan besar.

Ungkapan Went yang menyatakan Cibodas bagian dari surga di muka bumi, bisa saja untuk menyiratkan indahnya pemandangan di kebun raya yang terletak di kaki Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Kebun raya ini didirikan pada 11 April 1852 oleh Johannes Ellias Teijsmann.

Pada zamannya, Teijsmann adalah kurator Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Cibodas semula diberi nama Bergtuin te Tjibodas (Kebun Pegunungan Cibodas).

Tidak sekadar surga karena keindahannya, Kebun Raya Cibodas adalah surga bagi para ilmuwan untuk menguak pengetahuan dari berbagai fenomena tumbuh-tumbuhan di alam.

"Dari sini hasil publikasi internasional hasil riset mikoriza pertama kali dilakukan," ujar Didik.

Mikoriza adalah jamur di dalam tanah yang mampu menginfeksi akar berbagai tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.

Anehnya, akar yang terinfeksi bukannya meradang, tetapi malah makin memiliki kemampuan mengikat unsur hara seperti fosfat.

Menurut Didik, publikasi ilmiah mikoriza ditulis JM Janse dari Belanda pada periode tahun 1890-1897. Usia Kebun Raya Cibodas waktu itu beranjak dari 38 tahun.

Ada dua publikasi ilmiah mengenai mikoriza. Pada masa itu belum diperkenalkan dengan istilah mikoriza, tetapi sebagai endofita atau truffe (jamur kecil).

Kedua judul publikasi itu Les Endophytes Radicauz de Quelques Plantes Javanaises (Endofita Akar dari Beberapa Tumbuhan Jawa) dan Quelques Mots sur le Development d'une petite truffe (Beberapa Catatan tentang Pengembangan dari Jamur Truffe kecil).

"Karya Janse itu menggugah penelitian fenomena mikoriza lebih lanjut di dunia," kata Didik.

"Quo vadis"

Pengetahuan yang terkandung di Kebun Raya Cibodas mampu mengguncang dunia. Didik menuturkan, kebun raya ini menjadi kiblat kegiatan introduksi dan domestifikasi tumbuhan pada masa kolonial Hindia Belanda.

"Peran ini justru melemah ketika Kebun Raya Cibodas dikelola bangsa sendiri. Quo vadis (hendak ke manakah) Kebun Raya Cibodas," kata Didik.

Kebun Raya Cibodas dirancang menjadi lokasi penyesuaian iklim tanaman produktif yang didatangkan dari wilayah negara lain. Yang paling terkenal adalah introduksi dan domestifikasi pohon kina (Cinchona calisaya).

Di bawah naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kebun Raya Cibodas berupaya memberikan kontribusi. Kepala LIPI Lukman Hakim menyebutkan, pada peringatan 159 tahun Kebun Raya Cibodas diluncurkan produk inulin hasil isolasi dari umbi dahlia.

"Produk inulin adalah bahan prebiotik hasil kerja sama Kebun Raya Cibodas dengan Pusat penelitian Kimia LIPI di Bandung," kata Lukman.

Di tengah melemahnya peran introduksi dan domestifikasi saat ini, Didik mengatakan, masih patut untuk membanggakan Kebun Raya Cibodas. Koleksi 235 jenis lumut di Taman Lumut Kebun Raya Cibodas yang dipertahankan di luar ruang lebih menarik dibanding taman lumut di Jerman dan Singapura yang berada di dalam ruang.

"Sebanyak 395 pohon sakura yang didatangkan dari Himalaya juga mampu tumbuh dengan baik," kata Didik.

Menurut Didik, nilai penting sebenarnya tidak hanya dari koleksi tanaman. Namun, pada hasil-hasil riset di masa Hindia Belanda, seperti karya Janse atau Went. Saat ini masih banyak ilmu yang bisa diungkap dari koleksi kebun raya itu.
sumber: kompas.com
Read more...
0 komentar
Beberapa spesies dinosaurus dan reptil terbang jaman dahulu diperkirakan pergi berburu pada malam hari. Kesimpulan ini didapat dari sebuah penelitian terbaru terhadap fosil dari struktur tulang mata sejumlah reptil dan burung purba yang dilakukan oleh Lars Schmitz dan Ryosuke Motani, peneliti dari University of California.

Dikutip dari ScienceShots, 15 April 2011, pada makhluk modern yang memiliki struktur serupa, ukuran dan proporsi dari apa yang disebut sebagai scleral ring yang memperkuat jaringan luar mata dan sekitar pupil merupakan indikator handal untuk mengetahui apakah hewan bersangkutan aktif di siang hari, malam hari, atau pada siang dan malam hari.

Sebagai contoh, kecilnya ukuran diameter internal dari scleral ring milik pterosaurus Scaphognathus crassirostris berukuran sebesar burung elang (lihat lingkaran warna ungu pada gambar) dibandingkan dengan ukuran soket mata milik hewan tersebut mengindikasikan bahwa reptil terbang ini hanya bisa melihat di kondisi terang benderang.

“Namun, besarnya diameter internal dan eksternal dari scleral ring pada Velociraptor mongoliensis, dinosaurus bergigi tajam yang berukuran sebesar anjing retriever menunjukkan bahwa predator ini juga berburu di malam hari,” sebut kedua peneliti dalam laporannya.


Selain itu, meski sebagian besar reptil terbang yang dianalisa pada penelitian kali ini juga hanya aktif pada siang hari, terdapat empat spesies pterosaurus yang memiliki ciri ekologis nokturnal yang serupa dengan kelelawar modern.

“Temuan ini membantah pemahaman umum bahwa mamalia purba menyelinap tanpa terancam oleh predator yang sebelumnya diperkirakan hanya aktif pada siang hari,” sebut kedua peneliti.
sumber: vivinews.com
Read more...

Radiasi Nuklir Mampu Hasilkan Padi Tahan Hama

0 komentar
Benih padi varitas unggul dalam negeri kita tidak kalah dengan benih impor. Demi memenuhi ketahanan pangan nasional, teknologi nuklir juga berperan menghasilkan benih padi andal.

Jangan selalu takut dengan radiasi nuklir. Bisa jadi beras yang kita makan sehari-hari merupakan hasil proses radiasi nuklir. Salah satunya adalah yang berasal dari benih Mira 1, hasil kembangan teranyar Badan Teknologi Atom Nasional (Batan).
“Mira kepanjangan dari Mutasi dan Radiasi, jenis benih padi unggul kami pada tahun 2005 lalu. Sampai sekarang jenis ini sudah menghasilkan panen di lahan seluas 440.000 hektare,” ungkap Suharyono, Kepala Bidang Pertanian Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Batan kepada SH di Jakarta, Selasa (30/1).
Kelebihan Mira 1 dibanding dengan padi konvensional adalah batangnya lebih kokoh sehingga tidak mudah rontok ketika terkena angin kuat. Padi temuan Prof Dr Mugiono ini tahan terhadap hama wereng cokelat biotipe 1 dan 2, tahan terhadap penyakit bakteri hawar daun strain III.

Mira 1 hanya satu di antara 15 benih padi unggul produksi Batan. Lainnya seperti Atomita 1,2,3,4, Meraoke, Woyla, Kahayan, Winongo, Diah Suci, Yuwono, Mayang, Situgintung, Muria, Tengger, Meratus, Rajabasa dan Camar juga dihasilkan dari proses radiasi nuklir.

Suharyono menjelaskan teknik nuklir yang digunakan dalam pemuliaan padi adalah radiasi, di mana tanaman varietas nasional disilangkan dengan tanaman yang memberi aspek bagus.

Radiasi mampu menembus biji tanaman sampai ke lapisan kromosom. Struktur dan jumlah pasangan kromosom pada biji tanaman dapat dipengaruhi dengan sinar rasiasi ini.

Perubahan struktur akibat rasiasi dapat berakibat pada perubahan sifat tanaman dan keturunannya. Fenomena ini digunakan untuk memperbaiki sifat tanaman untuk memperoleh biji tanaman dengan keunggulan tertentu, misalnya tahan hama, tahan kering dan cepat panen.

“Kami radiasi dengan dosis tertentu. Padi yang diradiasi bersifat aman sepenuhnya, tidak ada unsur radioaktif. Setelah itu masuk ke tahap seleksi yang lanjut ke tahap galur mutan dan galur harapan. Dari situ melalui uji daya hasil pendahuluan,” jelas Suharyono.

Langkah selanjutnya adalah uji multilokasi yang menurut standar Departemen Pertanian paling sedikit harus dilakukan di 20 lokasi.

Sejak 1982, Studi pemanfaatan teknologi radiasi nuklir terhadap pemuliaan padi sudah dilakukan Batan sejak tahun 1982. Dedy Miharja, Kepala Bidang Promosi Batan mengatakan, “Total benih unggul kembangan Batan sudah tersebar di 923.000 hektare di 23 provinsi se-Indonesia, paling banyak di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penyebaran benih unggul ini dilakukan melalui program Iptekda di berbagai daerah sejak 1999.”

Batan juga bekerja sama dengan PT Sang Hyang Sri dan Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) untuk mendistribusikan benih tersebut ke masyarakat. Yang menjadi kendala hingga saat ini adalah sulitnya menghadapi masalah musim yang memang tidak dapat dihadapi. Kendala lainnya adalah keterbatasan Batan sebagai Lembaga Penelitian Non departemen (LPND) untuk melakukan komersialisasi sendiri.

Selain sekadar menghasilkan produksi benih unggul, Batan juga mencoba mengolah padi lokal untuk ditingkatkan kemampuan tanamnya. Salah satunya padi Pandanwangi dari Cianjur yang berkat teknik rasiasi mampu ditanam bukan saja di atas ketinggian 700 meter dpl, melainkan di area yang lebih rendah juga.
“Kami berharap agar pemerintah mengikutsertakan benih-benih produksi kami ke dalam program subsidi benih unggul nasional,” demikian Suharyono.

sumber: hkti.org
Read more...
0 komentar
KEMENTERIAN Pertanian melepaskan varietas padi tahan hama Inpari 13. Varietas ini memiliki keunggulan mengurangi tingkat losses dan rontok lebih kecil dibandingkan padi jenis lain. Dengan rata-rata hasil panen 6,5 hingga 10 ton per hektare, padi ini ditargetkan mampu mengganti padi varietas lain.

“Kita berharap kontribusi padi Inpari 13 terhadap surplus bisa signifikan, karena produksi padi ini bisa mencapai 6,5 ton sampai 10 ton perhektare atau diatas rata-rata produksi padi jenis ciherang maupun IR

64,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, Haryono, di Jakarta, Rabu (30/3).

Data Balitbang menunjukkan saat ini luas tanam padi mencapai 12,8 juta hektare dengan dominasi pertanaman dari padi jenis ciherang sebesar 47 persen, dan sisanya diisi IR 64 dan puluhan padi varietas lain. Dengan tingkat produktivitas tinggi, kata Haryono, padi Inpari ditargetkan akan menggeser varietas padi jenis ciherang yang rata-rata produksinya hanya enam ton dan padi IR 64 yang produksinya hanya lima ton perhektare.

Saat ini, kata Haryono padi Inpari 13 sudah dikembangkan di beberapa kota diantaranya Aceh, Medan, Sulawesi dan Tulung Agung. Dan dari pantauan di lapangan, katanya, petani mencari padi varietas ini karena tingkat panen yang dihasilkan per hektarenya lebih tinggi.

Untuk itu, Balitbang Kementerian Pertanian menginstruksikan kepada Balai Besar Padi menyediakan benihnya di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPTP) di 32 Provinsi agar bisa digunakan dalam pertanaman petani.

“Hasil penelitian kita tingkat loses Inpari 13 hanya 0,23 persen dan rontokan sebesar 0,25 persen. Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan data BPS untuk padi jenis lain seperti ciherang dan IR 64. Total potensi penyelamatan hasil panenya bahkan bisa mencapai 2,07 persen,” ujarnya.
sumber: jurnas.com
Read more...

Ternyata, Padi Organik Lebih Tahan Hama

0 komentar


Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terus mengembangkan jenis padi organik, karena selain berasnya berkualitas, juga lebih tahan hama wereng batang coklat.

"Pengembangan produk pertanian padi organik menjadi perhatian Pemkab Boyolali, saat ini, dikembangkan di dua desa, yakni Catur, Kecamatan Sambi dan Dlingo, Mojosongo," kata penggiat pertanian Aris Purwanto, Senin (21/3/2011).

Selain pangsa pasar yang semakin terbuka, varietas organik ternyata lebih tahan penyakit seperti wereng batang coklat, dan rasanya lebih pulen dan tidak mudah basi.

Pengembangan produk pertanian organik yang baru dikembangkan dua desa di Boyolali tersebut terus akan diperluas. Produksi beras organik di Boyolali, saat ini, mencapai 80 hektare, dan rata rata sekitar 6,5 ton gabah kering panen (GKP) per hektar.

Pemasaran beras organik baru melayani kebutuhan lokal di seluruh Jawa, sedangkan pasar ekspor masih menunggu sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurut dia, kelebihan lain beras organik, harganya sangat kompetitif dibanding dengan beras sejenis non organik, dan dapat mencapai selisih Rp 500 per kilogram.

"Sehingga, beras organik akan menguntungkan bagi petani, dan juga meringankan beban biaya produksi khususnya pestisida," katanya.

Menurut Anggota DPRD Boyolali Tugiman B, Semita, beras organik di daerah Boyolali sudah berkembang sejak 2007. Tetapi, pemasarannya belum menembus kelas ekspor, melainkan masih lokal.

Hal tersebut, menjadi tantangan bagi pemkab untuk dapat nembus ke luar negeri sebagai komoditas pangan higienis.

Menurut dia, pemeliharaan padi organik ini masih sebatas manual, yakni belum memanfaatkan mesin untuk mengolah pupuk organik.

Oleh karena itu, pihaknya berharap pemkab dapat memberikan fasilitas kepada petani mengembangkan pupuk organik. Sehingga, petani ke depan dapat memproduksi pupuk ramah lingkungan tersebut skala besar.

Bupati Boyolali Seno Samodro menyambut positif rencana pengembangan padi organik di Boyolali. Dukungan itu, ditunjukkan dengan perluasan lahan pertanian organik di dua desa tersebut.

Bupati mengakui merubah paradigma petani untuk menanam padi organik bukan hal yang mudah, tetapi pemkab akan gencar melakukan sosialisasi.

sumber: kompas.com
Read more...
 
Kabar Agro © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings