Bibit Semangka Mampu Hasilkan 45 Ton/Ha

0 komentar
Kabar Agro. Dalam demplot di lokasi Pekan Nasional (Penas) XIII Petani dan Nelayan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim), dipamerkan berbagai varietas buah unggulan, di antaranya adalah semangka BT yang mampu menghasilkan 45 ton/hektar.

"Bibit semangka ini belum kami lepas ke petani karena belum dikasih nama, makanya kami di balai peneliti masih menyebutnya semangka BT," ujar Khoirul Mu’min, peneliti semangka dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (BPTBT) Sumatera Barat ditemui di lokasi demonstrasi plot (demplot) di Tenggarong Seberang, Minggu (19/6/2011).

Untuk mendapatkan hasil sebanyak 45 ton per hektare, maka jarak tanam ideal adalah 50 cm tiap pohon, kemudian pupuk dan pemeliharaan yang cukup. Tanaman ini bisa menghasilkan bnuah siap panen ketika berusia 75 hari.

Semangka jenis ini memiliki keunggulan antara lain rasa yang lebih manis, warnah buah lebih merah dan menggiurkan, lebih tahan terhadap hantaman banjir asalkan tidak terjadi banjir ekstrim yang merendam hingga lebih dari satu hari.

Berbeda dengan jenis semangka lain, jika terkena banjir beberapa jam saja dipastikan sudah tidak mampu lagi untuk tumbuh, masa layu atau mulai tidak mampu hidup biasanya terlihat beberapa jam setelah terkena banjir.

Semangka yang belum bernama ini juga cocok ditanam di dataran rendah dan di atas rawa. Di Kaltim juga cocok untuk dikembangkan semangka jenis ini, karena sudah terbukti pernah terendam air dua kali, namun hingga kini masih tumbuh segar dan buahnya lumayan banyak.

"Di kawasan demplot ini termasuk dataran rendah, makanya pernah dua kali kebanjiran saat hujan deras bulan lalu. Namun Alhamdulillah semangkanya tidak mati dan tetap tumbuh baik, ini menandakan bahwa semangka jenis ini cocok ditanam di Kalimantan," ujarnya.

Menurutnya, pada umumnya tanah di Kalimantan mengandung kadar asam cukup tinggi yang mencapai 4 hingga 5 PH, untuk itu perlu pengapuran yang cukup ditambah dengan pupuk kandang.

Namun dia yakin bahwa semua petani, termasuk petani di Kalimantan sudah memahami hal itu, yakni apa saja yang harus dilakukan untuk menetralisir keadaan tanah yang kurang subur, termasuk tanah yang ber-PH tinggi.

Jenis semangka yang dikembangkan ini masih berbiji, tujuan pengembangan semangka berbiji adalah supaya bisa dikembangkan oleh petani, kemudian pangsa pasarnya luas, karena harganya terjangkau oleh masyarakat, dan bibitnya juga terjangkau oleh petani.

Sedangkan semangka tanpa biji harga bibitnya lebih mahal, perawatannya juga lebih sulit, sehingga harganya relatif mahal. Terkait harga yang tinggi tersebut, sehingga pangsa pasar akan terbatas yang berdampak pada distribusi ke konsumen berkurang.

sumber : kompas.com

Leave a Reply

 
Kabar Agro © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings