Proses Pengolahan Nata de Cassava

2 komentar
Kabar Agro. Nata de Cassava merupakan jenis nata yang terbuat dari bahan dasar singkong. Nata de Cassava adalah makanan pencuci mulut yang kaya serat terbuat dari air hasil samping produksi tapioka yang melewati proses fermentasi menggunakan Acetobacter xylinum. Nata de Cassava secara biokimia adalah untaian atau rajutan selulosa yang dihasilkan dan disekresikan oleh sel-sel Acetobacter xylinum yang menyerap air. Selulosa dihasilkan oleh Acetobacter xylinum melalui proses asimilasi atau pengubahan zat gula yang sederhana menjadi senyawa karbohidrat yang lebih kompleks berupa selulosa. Selulosa tampak mata seperti benang, atau seperti kapas.

Nutrisi yang terkandungdi dalam Nata de Cassava sangat rendah. Nata de Cassava tidak mengandung vitamin, lemak, dan protein. Kalori yang dihasilkan juga sangat rendah karena secara biokimia sebenarnya Nata de Cassava ini merupakan selulosa yang menyerap air. Manusia tidak memiliki enzim selulase dalam pencernaannya, sehingga tidak dapat mencerna Nata de Cassava menjadi gula sederhana berupa glukosa sebagai sumber energi. Hal tersebut menyebabkan Nata de Cassava tidak menyebabkan kegemukan, sehingga Nata de Cassava sangat cocok diamakan untuk mereka yang sedang menjalankan program diet.

Namun dari sisi cita rasa, tekstur atau kekenyalan Nata de Cassava memberi cita rasa yang menarik dan disukai oleh konsumen. Nata de Cassava dapat dibuat dalam berbagai bentuk seperti dadu, irisan tipis, irisan kecil memanjang, maupun serpihan tidak teratur. Dari sisi tampilan warna Nata de Cassava juga dapat dibuat menjasi beragam warna sesuai dengan keinginan kita, dengan cara merendam nata pada air yang sudah diberi pewarna makanan. Demikian rasa dari nata ini dapat kita buat dalam berbagi rasa seperti  manis asam, tawar tergantung penambahan bahan tambahan pangan yang menyebabkan rasa tertentu.

Proses Pembuatan Nata de Cassava
Untuk membuat Nata de Cassava dapat digunakan nampan ukuran kecil, sedang ataupun besar tergantung pada keinginan kita dan bahan yang ada. Proses pembuatan Nata de Cassava dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  1. Substrat steril sebanyak 20 L diinokulasi dengan bibit  Acetobacter xylinum  MGCa 10.5 cair sebanyak 10% atau sebanyak 2 L
  2. Substrat diaduk dengan pengaduk steril supaya supaya substrat dan bibit tercampur dengan rata
  3. Nampan steril diisi dengan substrat yang telah disiapkan dengan kedalaman media kurang lebih 2 cm
  4. Nampan ditutup dengan kertas yang bersih atau steril
  5. Diinkubasi pada suhu ruang selama 8 hari
  6. Setelah 8 hari Nata de Cassava dapat dipanen dengan ketebalan 1,25-1,5 cm
Produksi Nata de Cassava dilakukan ditempat yang bersih, bebas debu serta memungkinkan tersedianya sirkulasi udara secara baik. Selama proses fermentasi atau inkubasi dijaga agar tidak ada hewan kecil yang masuk menyebabkan kontaminasi seperti semut, cicak, kecoa, tikus dan lain-lain.
Read more...

Taukah Anda Nata de Cassava?

0 komentar

Kabar Agro. Mungkin banyak orang yang tahu tentang Nata de Coco. Nata de Coco adalah makanan pencuci mulut yang terbuat air kelapa yang difermentasi dengan bantuan Acetobacter xylinum. Namun apakah anda tahu ada Nata de Cassava. Nata de Cassava pada umumnya hampir sama dengan Nata de Coco, namun yang membedakan adalah bahan baku dari Nata de Cassava. Seperti namanya kalau Nata de Coco terbuat dari kelapa, namun kalau Nata de Cassava terbuat dari singkong (Cassava).

Nata de Cassava ialah suatu makanan pencuci mulut yang berbentuk gel, berwarna putih agak transparan dan terbuat dari substrat atau cairan yang berasal dari limbah sampingan dari pengolahan ubi kayu atau yang biasa di sebut singkong.

Bagaimana bisa hasil samping dari pengolahan singkong menjadi tepung dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan Nata. Seperti yang kita ketahui pembuatan Tepung tapioka yang berbahan dasar singkong adalah sebagai berikut:
  1. Singkong dikupas kulit arinya
  2. Singkong diparut
  3. Dicampur dengan air bersih dengan perbandingan kurang lebih 1:4 atau sesuai dengan kualitas singkong
  4. Hasil campuran tadi kemudian diperas hinnga muncul santan singkong
  5. Kemudian hasil perasan tadi disaring untuk memisahkan ampas dan sari pati singkong
  6. Pati diendapkan selama kurang lebih 24 jam 
  7. Kemudian dipisahkan air dan endapan 
  8. Endapan dikeringkan dan jadilah tepung tapioka
Air hasil sampingan dari proses diatas mengandungkarbohidrat mencapai 2,5%, glukosa 0,185 mg/L, nitrogen total mencapai 182 mg/L, serta pH 5 – 5,5 sehingga dapat dimanfaatkan sebagai substrat untuk membuat Nata de Cassava. Kemudian limbah cair dari pengolahan tepung tapioka diolah untuk dijadikan produk Nata de Cassava.


Read more...

Prospek Pertanian Organik

0 komentar
Kabar Agro. Masyarakat dunia pada saat ini telah sadar tentang bahaya dari penggunaan bahan-bahan kimia sintetis, terutama pada produk-produk pertanian. Orang semakin cerdas dalam memilih produk-produk pertanian yang aman bagi tubuh dan menyehatkan tentunya dengan slogan Back to Nature banyak orang yang mengembangkan pertanian organik. Dengan dikembangkannya pertanian organik diharapkan dapat menyediakan bahan pangan yang aman untuk dikonsumsi.


Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang menggunakan bahan-bahan alami dan menhindari penggunaan bahan-bahan kimia sintetis yang dapat membahayakan tubuh dan juga lingkungan. Tujuan utama dari pertanian organik adalah menyadiakan produk-produk pertanian terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan konsumen, produsen dan lingkungan tentunya. Gaya hidup sehat yang seperti demikian telah melembaga di dunia secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian haruslah beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik di dunia semakin meningkat setiap tahunnya.
Peluang Pertanian Organik di Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya alam hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari , air dan tanah. Pasar produk pertanian organik yang meningkat dengan pesat setiap tahunnya, ini akan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan bila ditekuni. Oleh karena itulah pengembangan pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi permintaan konsumen tang sangat besar.
Luas lahan yang tersedia di Indonesia yang dapat digunakan sebagi lahan pertanian organik cukup besar, namun tidak semua lahan yang tersedia dapat digunakan untuk pertanian organik. Karena pertanian organik membutuhkan lahan yang belum tercemar oleh bahan kimia sintetis seperti pupuk dan pestisida kimia. Pada umunya lahan yang demikian ini adalah lahan yang kurang subur. Lahan yang subur biasanya adalah lahan yang telah diusahakan untuk pertanian secara intensif dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Tetapi lahan ini masih dapat digunakan untuk pertanian organik dengan syarat harus dilakukan konservasi. Konservasi lahan ini memerlukan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 2 tahun.
Dengan segala potensi yang dimiliki Indonesia, Indonesia berpeluang untuk menjadi produsen bahan pertanian organik terbesar di dunia. Tetapi potensi saja tidak cukup untuk mewujudkan itu semua, perlu adanya dukungan dari semua pihak yana terlibat dalam pertanian organik dan juga pemerintah khususnya. Bila tidak ada dukungan dari semua pihak potensi yang ada hanya akan menjadi potensi saja dan bahkan akan sia-sia.
Pertanian Organik Modern
Pertanian organik modern dikembangkan untuk memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Penekanan pada sistem pertanian organik modern ini lebih pada menghindari penggunaan pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, mikrobiologi, kimia, biokimia dan lain-lain maka pertanian organik ini akan terus berkembang.
Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat untuk menjamin konsumen. Sering satu produk pertanian harus dikembalikan ke negara pengekspor karena ditemukannya kandungan resida maupun bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan konsumen.
Produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

  • Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agricuture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian hama dan penykit tanaman dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran maupun agensi hayati. Tim untuk sertifikasi nasional telah dibentuk oleh Kementerian Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.
  • Sertifikasi Internasional untuk pangsa pasar ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang arus dipenuhi antara lain masa konservasi lahan, tempat [enyimpanan produk organik, bibit, pupuk, pestisida, serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk organik.
Beberapa contoh komoditas pertanian yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, tanaman rempah, obat, serta peternakan dengan contoh sebagai berikut:

  1. Tanaman Pangan : Padi
  2. Holtikultura Sayuan : Brokoli, Kubis, Caisin, Bayam Daun, Kubis Merah Labu Siyam dll
  3. Holtikultura Buah  : Nangka, Durian, Salak, Mangga, Jeruk, Manggis dll
  4. Perkebunan : Kelapa, Pala, Jambu Mente, Cengkeh, Kopi dll
  5. Rempah dan Obat : Jahe, Kunyit, Temulawak dll
  6. Peternakan : Susu, Telur, Daging dll



Read more...

Teknik Irigasi dan Drainase

0 komentar
Kabar Agro. Untuk temen-temen yang mau download  materi Teknik Irigasi dan Drainase dari Pak Bambang Rahardi dapat temen-temen download dibawah ini:

Irigasi

Terimaksih semoga bermanfaat.
Read more...

Pertanian Masa Depan di Lahan Rawa

0 komentar
Kabar Agro. Sebelas anggota dari Komisi IV DPR-RI yang  membidangi pertanian, perikanan dan kelautan, serta kehutanan berkunjung ke Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan (31/10/11). Begitu masuk ke ruang pamer di aula Balittra, mereka langsung ‘berebut’ buku dan brosur tentang 
teknologi lahan rawa yang dipajang di meja pamer. Usai memperoleh sejumlah literatur, rombongan serius mendengarkan penjelasan Dr. Haris Syahbuddin Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) mengenai produk yang telah dihasilkan Balittra sejak 50 tahun berdiri.
Sebut saja biotara, pupuk hayati khas rawa, yang mengandung bakteri pelarut fosfat dan pelarut kalium dapat meningkatkan efisiensi pemupukan di tanah rawa, yang hingga kini statusnya sedang diuji efektivitasnya melalui kerjasama dengan PT Pupuk Kaltim. Sementara biosure adalah pupuk hayati yang berfungsi ‘menjinakkan’ lapisan pirit yang telah teroksidasi dan menjadi penyebab kemasaman pada tanah rawa. Produk lain yang juga dipamerkan ialah teknologi pengusir tikus ‘ratel’ dan pestisida nabati asal kirinyu.
Anggota DPR-RI Viva Yoga Mauludi terlihat mengagumi varietas padi khas rawa seperti Margasari dan Siam Unus Mutiara.  Menurut Dr. Haryono, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Badan Litbang Pertanian) Kementerian Pertanian RI, padi khas rawa itu memiliki keunggulan yang tidak ditemui pada padi di lahan irigasi atau tadah hujan. “Biji-bijian yang ditanam di lahan rawa kaya zat besi dan selenium,” kata Haryono.  Karena itu masyarakat yang rutin mengkonsumsi padi rawa jarang yang mengalami defisiensi zat besi.
Wajah M. Romahurmuziy, ketua Komisi IV DPR-RI, terlihat serius mendengarkan Kepala Balittra, berbicara. Sesekali wakil rakyat itu menyela penjelasan Kepala Balittra untuk bertanya atau memberi saran. “Segera cari pihak swasta untuk memasarkan biotara dan biosure agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Ketua Komisi IV DPR-RI.
Usai melihat produk  hasil penelitian, sebelas anggota DPR-RI lalu memperhatikan peta lahan rawa yang dibuat tim peneliti Balittra. Dari peta itu terlihat wilayah Kalimantan Selatan terdiri dari lahan rawa yang karakternya ternyata tidak tunggal. Ya, di Kalimantan Selatan terdapat lahan rawa pasang surut dan rawa lebak yang cocok untuk padi dengan karakter lahan yang berbeda-beda. Usai memperhatikan pemaparan tentang potensi lahan rawa, teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, dalam hal ini teknologi pertanian lahan rawa, serta upaya terobosan yang akan dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian, seperti pola diseminasi pada cluster yang besar, minimal 500 ha, Ketua Komisi IV DPR-RI menyatakan “Bila lahan rawa ini dapat dibudidayakan padi, tentu kita tak usah repot-repot mencetak sawah baru di lahan kering yang malah berpotensi menimbulkan persoalan hukum,”.
Dukungan Komisi IV DPR-RI terhadap pertanian lahan rawa tentu membangkitkan gairah peneliti Balittra untuk terus berkarya. “Lahan rawa harus menjadi pertanian masa depan,” kata M. Jafar Hafsyah, anggota komisi IV. Untuk memenuhi harapan itu salah satunya Balittra sedang mengembangkan kalender tanam di lahan rawa di seluruh Bumi Kalimantan. Dengan kalender tanam petani maupun pemerintah terkait mudah menentukan musim tanam di tengah perubahan iklim belakangan ini. “Kita akan membagi musim tanam pada tahun normal, tahun kering, dan tahun basah,” kata Kepala Badan Litbang Pertanian.
Read more...
 
Kabar Agro © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings